Kunjungi sisa pabrik semen pertama di Asia Tenggara di Padang Indarung

Padang, CNN Indonesia —

Indonesia pernah pabrik semen pertama Asia Tenggara. pabrik berlokasi di bidang, Sumatera Barat didirikan pada tahun 1910 atas prakarsa seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman Carl Christopus Lau.

Pabrik dimulai setelah lulusan teknik sipil menemukan batuan ’emas’ berupa kapur dan silika sebagai bahan baku semen di Bukit Ngalau dan Karang Putih, Nagari Lubuk Kilangan.

Berdasarkan hal tersebut, proposal pendirian pabrik diajukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya disetujui. Pabrik tersebut kemudian didirikan dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NI-PCM) dan Indarung I kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Semen Padang.

Didirikan dan beroperasi pada tahun 1910, pabrik Indarung I baru mulai berproduksi pada tahun 1911. Produksi awal adalah 25.000 reng (saat itu unit semen tipe drum), atau 50.000 ton.

Produksi berhasil dan pabrik semen diperluas dari lokasi aslinya pada tahun 1913-1919 menjadi 130 meter utara, 284 meter timur, 121 meter selatan dan 277 meter barat.

Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang baik dalam produksi semen karena kendala teknis. Padahal, produksi semen di pabrik Indarung I sangat fluktuatif. Misalnya, pada tahun 1913 pabrik hanya mampu memproduksi 27.000 ton, tetapi pada tahun 1916 mencapai 37.920 ton, dan pada tahun 1919 turun menjadi 29.557 ton.

Menurut laporan yang disampaikan kepada dewan direksi perusahaan NV NI-PCM di Amsterdam, penurunan produksi tersebut karena manajemen yang melemah. Masalah lainnya adalah mesin sering hang.

[Gambas:Video CNN]

Erick Klem, konsultan ahli di Amsterdam, yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menyelidiki masalah yang ditemukan, mengatakan pabrik itu tidak terawat dengan baik.

kompor dapur untuk memasak bubur Tidak dapat bekerja secara teratur dan sering macet. Akibatnya, sebagian besar semen yang dihasilkan berkualitas buruk, mudah getas dan sulit dipadatkan.

NV NI-PCM menggunakan hasil studi sebagai sumber perbaikan. Kami bekerja keras untuk mengembalikan produktivitas kami. Sejak tahun 1920-an, produksi semen di pabrik Indarung I mengalami peningkatan.

Pada tahun 1920, misalnya, produksi meningkat lagi menjadi 40.120 ton. Pada tahun 1926, atau saat Jam Gadang dibangun, produksinya mencapai 108.000 ton.

Baca Juga:  Menargetkan pendapatan Rp 1.846 T pada 2022, Sri Mulyani tidak memasukkan dampak UU HPP.

Jatuh ke tangan Jepang

Namun, Perang Dunia II mengubah peta jalan kelangsungan produksi Indarung I. Karyawan terpaksa meninggalkan pabrik karena takut akan pengeboman Jepang, yang mengakibatkan penutupan total.

Pada tahun 1942 pabrik tersebut dikuasai oleh Jepang. Mereka menguasai manajemen pabrik. Mengubah nama perusahaan menjadi Asano Cement dan kemudian menjadi Pabrik Semen Indarung.

Dari tahun 1942 hingga Agustus 1944, pabrik tersebut memproduksi 300.000 ton. Namun, itu tidak berlangsung lama.

Pada bulan Agustus 1944, serangan Sekutu menghancurkan pabrik dan mesin. Pada tahun 1947, dua tahun setelah Indonesia merdeka, hanya beberapa pabrik yang semula rusak parah dapat kembali beroperasi di bawah kendali Indonesia.

Suasana perang yang sulit membuat roda produksi menjadi dingin. Akhirnya, pada tahun 1958, pabrik tersebut dinasionalisasi dan resmi dimiliki oleh Indonesia.

Setahun setelah proses nasionalisasi, Semen Padang mencatat produksi 125.000 ton. Semen Padang tumbuh signifikan. Pada 1980-an dan 1990-an mereka menjadi perusahaan semen terbesar kedua di Indonesia.

porositas usia makan

Namun di usianya yang ke 111, pabrik semen Indarung I hanya tinggal kenangan. Pekerjaan telah berhenti sejak 1999. Cerobong asap mulai membusuk.

Momen Fikrirasy.ID Saya berkesempatan mengunjungi pabrik pada pertengahan minggu lalu, dan sebagian bangunan sudah lapuk karena bertahun-tahun ditumbuhi lumut dan semak belukar.

Atap pabrik kosong tanpa bekas dan tidak jelas dimana letak hutannya. Direktur Keuangan PT Semen Padang (Persero) Tubagus Muhammad Dharury mengatakan, ada wacana untuk mengubah bekas pabrik menjadi museum.

Ia mengatakan, “Kalau jadi museum, kami sedang berpikir dan meneliti karena kami harus terus bekerjasama dengan grup SIG.

Sambil menunggu hasil riset dan penyesuaian, perusahaan tetap mempertahankan pabrik tersebut, tambahnya. Jaga agar tanaman tetap bersih dan semuanya selesai.

“Sementara ini, kami hanya bisa menjaga dan mencegah tanaman dari korosi,” katanya.

(Bir)




Terimakasih Ya sudah membaca artikel Kunjungi sisa pabrik semen pertama di Asia Tenggara di Padang Indarung

Dari Situs Fikrirasy ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *