Populasi tikus kanguru yang pernah punah sekarang berjumlah ratusan.

Porto milik Gilbert Bisa dibilang salah satu marsupial paling langka di dunia. Masih dalam urutan yang sama dengan kanguru, mamalia kecil ini telah dinyatakan punah ratusan tahun yang lalu.

Namun, seperti yang dilaporkan surat harian, Selasa (1 April) hewan nokturnal kini dapat dilihat kembali di Cagar Alam Two Poples Bay, sekitar 35 kilometer dari Albany, Australia Barat. Ahli Biologi Departemen Konservasi Australia Barat Tony Friend bahkan mengatakan jumlahnya sekarang lebih dari 100.

Pororo Gilbert Juga dikenal sebagai tikus kanguru, tikus ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1838 oleh naturalis Inggris John Gilbert saat berkunjung ke Australia. Sayangnya, keberadaannya tidak lagi ditemukan pada tahun 1870-an, dan diperkirakan telah punah karena invasi predator dan perburuan liar.

Namun demikian, tampaknya sejumlah kecil hewan pecinta jamur ditemukan kembali di Two People’s Bay pada tahun 1994. Pasalnya, ekosistem di kawasan tersebut justru dianggap ‘murni terjaga’ setidaknya selama kurang lebih 30 tahun atau lebih. Setelah Duke of Edinburgh, Pangeran Philip melobi untuk melindungi daerah itu pada tahun 1962.

Seperti diketahui, otoritas Australia Barat saat itu menginginkan kawasan tersebut dikembangkan sebagai kawasan pemukiman. Namun, Pangeran Philip bermaksud turun tangan untuk menjaga situs tersebut tetap lestari dan berharap untuk menyelamatkan apa yang disebut populasi ‘burung semak berisik’ yang telah diketahui terancam beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  Polisi Tangkap Satu Tersangka KKB di Yapen Atas Tuduhan Makar

Tony Friend berkata, “Jika (pembangunan) terjadi, bisa ada kucing, anjing, dan kebakaran. Dan kawasan itu tidak akan berkelanjutan.” (M-4)


/*SLIDER GALLERY*/ $(function(){ $('.bxslider2').bxSlider({ mode: 'horizontal', speed: 1500, auto: true, captions: true, slideWidth: 1000, stopAutoOnClick: true }); });

$(function(){ $('.bxslider3').bxSlider({ mode: 'horizontal', speed: 1500, auto: true, captions: true, slideWidth: 1000, stopAutoOnClick: true }); });

$(window).on('load', function() { /*SLIDER E-PAPER*/ $('.e-paper-carousel').bxSlider({ mode: 'horizontal', speed: 1500, auto: true, slideWidth: 419, stopAutoOnClick: true, maxSlides: 1, adaptiveHeight: true, adaptiveHeightSpeed: 500 }) })

/*SLIDER HEADLINE*/ $(function(){ $('.bxslider').bxSlider({ mode: 'horizontal', speed: 1500, captions: true, slideWidth: 1000, touchEnabled: false, stopAutoOnClick: true }); });

/*LAZY LOAD*/ $(function(){ $ds = $('.fadein div'); $ds.hide().eq(0).show(); setInterval(function(){ $ds.filter(':visible').fadeOut(function(){ var $div = $(this).next('div'); if ( $div.length == 0 ) { $ds.eq(0).fadeIn(); } else { $div.fadeIn(); } }); }, 7000); });

$('#x').on('click', function(e) { $('#container').remove(); });

$(function() { $(window).scroll(function() { if($(this).scrollTop()>400) { $('#Back-to-top').fadeIn(); }else { $('#Back-to-top').fadeOut();}}); $('#Back-to-top').click(function() { $('body,html') .animate({scrollTop:0},300) .animate({scrollTop:40},200) .animate({scrollTop:0},130) .animate({scrollTop:15},100) .animate({scrollTop:0},70); }); });

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = "//connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.6"; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); } (document, 'script', 'facebook-jssdk'));

});



Terimakasih Ya sudah membaca artikel Populasi tikus kanguru yang pernah punah sekarang berjumlah ratusan.

Dari Situs Fikrirasy ID